Ayo, Cegah Penyakit Jantung dengan Gaya Hidup Sehat

Gaya-hidup-sehat-untuk-jantung-sehat
Gambar: pixabay.com

Berdasarkan data WHO tahun 2014, angka kematian akibat penyakit jantung di Indonesia mencapai 138.380 jiwa atau sekitar 9,89% dari total kematian. Kematian akibat penyakit jantung di Indonesia menempati peringkat 97 dari seluruh negara di dunia. Menilik dari angka-angka tersebut, dapat dikatakan bahwa kematian akibat penyakit jantung di Indonesia terbilang tinggi, sehingga harus menjadi perhatian serius setiap lapisan masyarakat.

Penyakit jantung tidak pandang bulu, pria-wanita, tua-muda, dapat terkena penyakit mematikan ini. Belakangan bahkan semakin sering kita dengar kabar kematian pada mereka yang masih berusia muda akibat penyakit jantung. Faktor gaya hidup yang tidak sehat (seperti merokok, stres, kurang olahraga, sering mengonsumsi makanan tinggi gula, garam, dan lemak) ditengarai menjadi pemicu utamanya.

Dalam hal penanganan penyakit jantung, pencegahan jauh lebih efektif daripada pengobatan. Berbagai studi menyatakan bahwa gaya hidup sehat akan memberikan dampak yang lebih signifikan dalam menurunkan risiko kematian akibat penyakit jantung, ketimbang melakukan tindakan terapi pengobatan (1). Namun sayangnya, belum banyak orang yang sadar akan pentingnya menerapkan gaya hidup sehat demi menjaga jantung tetap sehat. Anggapan-anggapan seperti, “Ah, usiaku ‘kan masih muda”, atau “Ah, sejauh ini belum ada keluhan apa-apa”, membuat banyak orang abai dan seolah tak peduli dengan gaya hidup yang sehat. Sudah bukan zamannya lagi memelihara anggapan-anggapan keliru seperti itu. Sekarang, sudah saatnya kita lebih peduli dengan kesehatan jantung kita, organ pemompa nadi kehidupan kita, sebelum semuanya terlambat.

Gaya hidup sehat seperti apa yang perlu kita terapkan untuk menjaga agar jantung selalu sehat?

1. Aktif Secara Fisik

Aktivitas fisik memiliki efek protektif bagi tubuh dari berbagai penyakit terkait kardiovaskular. Sebaliknya, manakala aktivitas fisik rendah, maka kejadian dan tingkat kematian akibat penyakit kardiovaskular justru meningkat (2).

Contoh aktivitas fisik yang bisa dilakukan dengan mudah, dimanapun dan kapanpun adalah jalan kaki, lari, naik-turun tangga, dan berbagai kegiatan olahraga lainnya. Para ahli menyebutkan bahwa aktivitas fisik selama setidaknya 30 menit per hari mampu membakar sekitar 1000 kilo kalori. Hal itu akan mengurangi risiko kejadian dan kematian akibat penyakit kardiovaskular sebesar 20-30% (2).

2. Konsumsi Makanan Sehat

Makanan sehat berarti makanan yang mengandung nutrisi cukup dan seimbang. Pengaturan asupan makanan berperan krusial dalam pencegahan penyakit jantung. Diketahui, 30% dari total kematian akibat penyakit jantung disebabkan oleh konsumsi makanan yang tidak sehat (3).

Beberapa saran pola makan sehat untuk mengurangi risiko penyakit jantung adalah:

  • Mengonsumsi aneka buah, sayur, dan kacang-kacangan.
  • Makanan yang kaya pati lebih direkomendasikan ketimbang mengonsumsi gula.
  • Hindari konsumsi asam lemak jenuh dan trans, ganti dengan asam lemak tidak jenuh, seperti yang terkandung dalam ikan laut dan kacang-kacangan.
  • Tingkatkan konsumsi asam lemak omega-3.
  • Kurangi asupan garam (< 6 gram per hari).
  • Konsumsi antioksidan yang berasal dari sumber-sumber alam, seperti buah berry.
  • Tingkatkan konsumsi serat, terutama serat soluble, seperti yang terkandung dalam oatmeal, apel, blueberry, dan kacang-kacangan.
  • Batasi konsumsi kolesterol (< 300 mg per hari bagi mereka yang tidak berisiko penyakit jantung, dan < 200 mg per hari bagi mereka yang memiliki risiko penyakit jantung).

3. Berhenti (Kurangi) Merokok

Merokok dapat memperpendek usia seseorang 10 tahun (4). Mereka yang merokok memiliki risiko kematian 3 kali lebih besar ketimbang mereka yang tidak/telah berhenti merokok. Mereka yang telah 3 tahun berhenti merokok memiliki risiko penyakit jantung yang sama rendahnya dengan mereka yang tidak merokok sebelumnya. Jadi, jika Anda sekarang masih merokok, maka segeralah berhenti, sebelum semuanya bertambah buruk.

4. Jaga Bobot Badan

Bobot badan berlebih (overweight) dan kegemukan (obesitas) akan meningkatkan berbagai risiko penyakit terkait jantung, seperti hipertensi, diabetes, hiperkolesterolemia, dan serangan jantung. Senada dengan itu, pertambahan bobot badan akan memperparah semua risiko mayor dari penyakit kardiovaskular, sedangkan penurunan bobot badan akan berdampak sebaliknya.

Seseorang dengan Body Mass Index (BMI) melebihi 25, harus waspada dan segera mengambil langkah untuk menurunkan bobot badannya. BMI adalah ukuran perbandingan antara bobot badan dengan tinggi badan seseorang. BMI juga dijadikan sebagai indikator yang digunakan untuk memprediksi tingkat risiko kejadian penyakit jantung pada seseorang. Kenaikan nilai BMI dari overweight (25-29,9 kg/m2) ke obesitas (>30 kg/m2) akan meningkatkan risiko relatif penyakit jantung dari 1,43 ke 1,58 (1).

5. Kelola Stres

Stres memang sering terjadi pada banyak orang. Ketika tres, manusia akan mengerahkan pertahanannya, baik itu dari sisi tingkah lakunya ataupun psikologisnya. Namun, jika stres itu terlalu kuat, terlalu lama, atau bahkan terlalu mengancam, dan pertahanannya tidak cukup memadai, maka kelainan atau suatu disfungsi tertentu dapat terjadi, termasuk penyakit jantung. Beberapa bentuk stres diketahui dapat memicu terjadinya angina (nyeri dada akibat kurangnya pasokan darah ke jantung). Bahkan, stres yang lebih parah lagi dapat menimbulkan serangan jantung.

Stres perlu dikelola agar tidak sampai membahayakan kesehatan. Banyak cara yang bisa dilakukan untuk mengelola stres, seperti mengetahui sumber stres lalu atasi atau hindari, aktif bergerak, menerapkan gaya hidup sehat, luangkan waktu untuk menghibur diri atau bersantai, tidur yang cukup, mengobrol dengan orang yang membuat kita nyaman, menjaga keseimbangan dalam hidup, dan lain sebagainya.

Mulai sekarang, bersahabatlah dengan gaya hidup sehat dan sayangi selalu jantung Anda.

————

Referensi:

(1) Lloyd-Jones DM, Kannel WB. 2007. Coronary Risk Factors: An Overview. Dalam: Willerson JT, Wellens J, Cohn JN, Holmes Jr DR, eds. Cardiovascular Medicine. Third Edition. Springer London. 2609-2630.

(2) Myers J. 2007. Exercise and Fitness. Dalam: Perk J, Gohlke H, Hellemans I, Sellier P, Mathes P, Monpere C, McGee H, Saner H, eds. Cardiovascular Prevention and Rehabilitation. Springer London. 77-87.

(3) Mittal S. 2005. Coronary Heart Disease in Clinical Practice. Springer London. 1-24.

(4) Handler C, Coghlan G. 2007. Living with Coronary Disease. Springer London. Hal 169-176.

————-


loading...

You Might Also Like

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>