INFOMANFAAT.COM

Manfaat Minyak Jelantah atau Minyak Goreng Bekas

infomanfaat.com – Minyak goreng bekas atau populer dengan sebutan minyak jelantah adalah sisa minyak goreng setelah digunakan untuk menggoreng lauk, kerupuk dan bahan makanan lainnya. Secara bentuk dan rasa mungkin minyak goreng bekas ini masih memungkinkan untuk dipakai. Namun, untuk kesehatan menggunakan minyak goreng bekas secara berulang tidak disarankan. Karena, minyak goreng bekas berpotensi menimbulkan gangguan berbahaya bagi kesehatan manusia.

Lalu, apa yang dapat kita lakukan untuk minyak goreng bekas ini? Apakah harus dibuang ke lingkungan? Eiiits…jangan dibuang dulu, tindakan itu sangat tidak direkomendasikan, karena dapat merusak lingkungan. Ada baiknya minyak goreng bekas tersebut dikumpulkan di sebuah wadah khusus, karena ternyata minyak goreng bekas masih bisa dimanfaatkan.

Berkaca dari kreativitas dan kebiasaan orang-orang tua kita dahulu, ternyata minyak goreng bekas sangat bermanfaat untuk keperluan berikut, yaitu:

  • Sebagai umpan pada perangkap tikus

    Minyak goreng bekas, terutama bekas menggoreng ikan, ikan asin yang mengundang bau khas yang disenangi oleh tikus bisa digunakan sebagai umpan pada perangkap tikus. Bagaimana caranya? Caranya sangat mudah. Cukup oleskan minyak goreng bekas tersebut pada perangkap tikus. Tempatkan perangkap tikus pada tempat-tempat yang sering dilewatinya, bau khas minyak goreng bekas itu akan mengundang tikus untuk mendekat dan akhirnya terperangkap. Ini adalah manfaat paling sederhana dari minyak goreng bekas.

  • Bahan bakar alternatif

    Minyak goreng bekas ternyata juga bisa dimanfaatkan sebagai bahan bakar alternatif, yaitu sebagai bahan bakar lampu minyak (Jawa: lampu sentir). Ini tentu saja sangat bermanfaat dan bisa diaplikasikan jika listrik tiba-tiba mati, sementara di rumah tidak ada alat penerang lain yang bisa diandalkan.

    Manfaat Minyak Jelantah

    Cara menggunakannya sangat sederhana, tidak memerlukan biaya dan tidak membutuhkan banyak waktu. Pertama, sediakan tutup kaleng biskuit atau wadah lain yang tidak mudah bocor atau terbakar jika tersentuh api. Tuangkan minyak goreng bekas ke dalamnya. Kemudian, ambil segumpalan kapas yang sudah di padatkan dan letakkan di tengah-tengah tutup kaleng biskuit tersebut.

    Biarkan beberapa saat hingga minyak meresap membasahi semua bagian kapas. Selanjutnya, bakar kapas tersebut dengan korek api, hingga menyala layaknya lampu minyak. Nah, lampu minyak berbahan bakar minyak goreng bekas siap menerangi ruangan Anda.

    Terinspirasi dari lampu minyak berbahan bakar minyak goreng bekas di atas, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) kemudian mempresentasikan ide manfaat minyak goreng bekas sebagai bahan bakar alternatif untuk kompor memasak. Diketahui, minyak goreng bekas memiliki keseimbangan karbondioksida yang netral, sehingga lebih aman digunakan dan tidak berpotensi meledak. Namun, kompor berbahan bakar minyak goreng ini juga memiliki kelemahan, yaitu pembakaran terkadang tidak terkendali. Api kompor terkadang membesar secara tiba-tiba. Namun demikian, ide ini patut diapresiasi dan disempurnakan lagi, sehingga bisa memberikan alternatif bahan bakar murah dan ramah lingkungan. Minyak jelantah juga dapat digunakan sebagai bahan baku pembuatan bahan bakar alternatif, yaitu biodiesel.

  • Bahan baku pembuatan biosurfaktan

    Peneliti di Lembaga Ilmu Penelitian Indonesia (LIPI) diketahui berhasil memanfaatkan minyak goreng bekas pakai atau minyak jelantah sebagai bahan pembuatan biosurfaktan, yaitu suatu metabolit yang dihasilkan oleh mahluk hidup (umumnya mikroorganisme, seperti bakteri ataupun yeast) yang memiliki aktivitas menurunkan tegangan permukaan layaknya surfaktan yang telah banyak diaplikasikan di berbagai produk. Hanya saja, surfaktan yang dihasilkan melalui sintesis secara kimia selama ini memiliki keterbatasan dalam hal sulit didegradasi oleh lingkungan sehingga perlu mendapat perhatian dalam rangka mencari alternatif penggantinya yang tentu lebih ramah lingkungan. Dalam hal itu, biosurfaktan merupakan alternatif yang tepat. Karakteristik yang dimilikinya membuat biosurfaktan memiliki potensi besar untuk diaplikasikan di berbagai bidang. Diprediksikan, industri biosurfaktan, secara global, akan berkembang mencapai nilai USD $2.21 Milliar pada tahun 2018. Diharapkan, Indonesia dapat berpartisipasi dalam industri biosurfaktan yang potensial itu, sehingga bisa menambah devisa negara. Karena sesungguhnya Indonesia mampu untuk melakukannya, dukungan sumber daya hayati yang besar yang ada di Indonesia merupakan modal yang kuat. LIPI telah memiliki koleksi mikroorganisme penghasil biosurfaktan yang berhasil di isolasi dari berbagai daerah di Indonesia.

Semoga bermanfaat…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>